Home » , » Seppuku {Harakiri}

Seppuku {Harakiri}

Written By Arfan Asri on Rabu, 15 Januari 2014 | Rabu, Januari 15, 2014




Harakiri (Hara = perut, Kiru = menusuk) walaupun demikian orang Jepang sendiri jarang yang menggunakan kata Harakiri. Mereka lebih senang menggunakan kata Seppuku yang memiliki arti yang sama dengan Harakiri. Budaya harakiri ini adalah tatacara budaya kesatrian (Bushido) yang dilakukan oleh kaum Samurai. Budaya ini sudah dilakukan sejak abad ke 12 dan mulai dilarang secara resmi di tahun
1868, walaupun demikian s/d saat ini masih tetap saja banyak yang mempraktekannya.

Harakiri bukanlah sekedar bunuh diri secara begitu saja, melainkan harus melalui upacara ritual yang jelas dan telah ditentukan sebelumnya. Mereka melakukan ini bukannya secara dadakan, terkadang mereka mempersiapkan upacara Harakiri ini seperti juga upacara perkawinan yang telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya.

Sebelumnya orang melakukan harakiri ia harus mendapatkan seorang pendamping asisten yang berfungsi sebagai algojo. Sang algojo ini mendapatkan tugas untuk memancung kepala dari orang yang melakukan harakiri. Masalahnya apabila seorang melakukan harakiri, pada saat ia mau mati, dilarang mengeluh, menggerang, mengaduh ataupun memperlihatkan wajah nyeri ataupun takut. Ia harus mati dengan tabah
dan gagah.

Untuk menghindar terjadinya hal ini, maka setelah sang pelaku harakiri menusukkan pisau ke perutnya, maka sang algojo harus segera memancung kepalanya dengan samurai. Dengan demikian ia bisa mempercepat proses kematian dan tidak perlu menderita. Asisten pembunuh ini lebih lazim dengan sebutan Kaishaku-Nin. Ilmu memancung
kepala dengan cepat dan baik ini bisa dipelajari dan disebut Seiza Nanahome Kaishaku.

Para pelaku harakiri selalu mengenakan baju putih yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Mereka menusuk perutnya dengan menggunakan pisau kecil yang disebut Wakizashi atau Tanto. Pisau tajam yang berukuran 30 s/d 60 cm. Pisau tersebut harus dibungkus oleh kertas putih.

Pisau tersebut ditusukan keperut; 6 cm dibawah pusar yang disebut Tanden. Berdasarkan ajaran Zen disitulah letak pusatnya Chi atau letaknya jiwa manusia. Mereka bukan hanya sekedar menusuk begitu saja; melainkan harus dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.
Prosedur merobek udel-udel ini disebut Jumonji-giri agar perutnya bisa benar-benar robek dan ususnya keluar 

RITUAL SEBELUM HARAKIRI 

Seorang samurai, jika ingin bunuh diri (harakiri) dengan melakukkan seppuku, maka ia harus mengikuti beberapa ritual dengan metode khusus. Seorang samurai, pertama kali ia harus mandi terlebih dahulu, kemudian menggunakan jubah putih, makan makanan favorit, dan jika ia sudah selesai, alat-alat yang akan digunakan diletakkan di atas piring. Kemudian ia harus mengenakan pakaian upacara, dengan pedang yang diletakkan di depannya dan terkadang diletakkan pada kain khusus. Seorang prajurit mempersiapkan kematiannya dengan menulis sebuah Puisi Kematian (Death Poem). Puisi tersebut ada hubungannya dengan pelaksanaan keagamaan Puisi ini harus indah, alami, dan mengikuti ajaran Budha dan Shinto (ada kemungkinan juga kristiani).Dalam puisi, terkadang mengungkapkan kemampuan seseorang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Shibata Katsuie (saudara Nobunaga) ia melakukan seppuku karena kalah perang. Berikut puisi yang telah ia buat :


Puisi Harakiri
(秋の夜、すぐに 渡された夢の年表!ああ山の中の項目は、雲の切れ間から私の名前を取る。) Alur mimpi yang berlalu dengan cepat, di malam di musim gugur! Oh burung yang ada di gunung, bawalah namaku melintasi awan

Dalam ritual ini, pelaku ditemani oleh seorang pelayan yang sudah ia pilih sendiri, (kaishakunin) yang berdiri disebelahnya. Ia bertugas membuka kimononya dan mengambilkan tanta (pisau) yang akan ia gunakan untuk merobek perutnya dari kiri ke kanan. Dan kemudian, kaishakun akan melakukan daki-kubi, sebuah potongan ketika prajurit tersubut telah selesai (hanya meninggalkan bekas garis tipis setelah kepala dan badannya terpisah).

Ritual yang rumit ini berkembang setelah seppuku banyak dilakukan di medan perang. Waktu itu, hal ini dijadikan sebagai salah satu hukuman resmi bagi penguasa tinggi. Orang kedua biasanya, tapi tidak selalu adalah seorang teman. Jika ia adalah seorang prajurit yang kalah di medan perang dengan terhormat, lawannya yang hendak menghormati akan menjadi sukarelawan untuk menjadi orang kedua.

Selain itu, tindakan bunuh diri yang dilakukan sebagai wujud kesetiaan seorang samurai kepada tuannya yang mati disebut junshi. Ritual ini dilaksanakan sebagai wujud kesetiaan seseorang terhadap tuannya, dan juga sebagai salah satu ekspresi yang menunjukkan ketidak setujuannya dengan tuannya. Alasan yang paling sering digunakan atas tindakan ini adalah harakiri yang dilakukan dalam peperangan oleh para samurai untuk menghindari supaya mereka tidak jatuh ke tangan musuh, dan untuk mengurangi rasa malu karena kalah atau karena telah melakukan sebuah kesalahan. Akan tetapi, harakiri ini juga bisa dilakukan oleh samurai jika tuannya menghendakinya untuk melakukan harakiri. Harakiri ini tidak hanya dilakukan oleh kaum pria saja tetapi juga oleh para samurai wanita. Meskipun sering dilupakan, perempuan juga sampai pada tingkat samurai. Sudah menjadi hal yang wajar, ketika suami adalah seorang samurai, maka seluruh keluarga juga harus mengikuti nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang samurai.

Ritual bagi kaum wanita dilakukan dengan cara yang berbeda dan harus meminta ijin terlebih dahulu.Ritual bunuh diri untuk para wanita disebut jigai. Dalam ritual ini, mereka tidak menusukkan pisau ke perut tapi memotong tenggorokannya. Akan tetapi, ada yang mengatakan juga bahwa untuk para wanita, seppuku ini dilakukan dengan menusuk jantung dengan pisau atau jepit rambut yang panjang dan tajam seperti yang dilakukan oleh Koju Maru.

sumber
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Seputar Parepare | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. B@n9 - 13ro - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger