Home » » Risiko di Balik Profesi Pengemis Topeng Monyet

Risiko di Balik Profesi Pengemis Topeng Monyet

Written By Arfan Asri on Selasa, 04 September 2012 | Selasa, September 04, 2012

“Ada beberapa penyakit yang spesifik diderita oleh monyet."

Seorang pengamen topeng monyet, Durjana, mengaku khawatir dengan resiko penularan penyakit dari interaksinya dengan monyet yang dibawanya untuk mengemis di beberapa titik di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Namun Durjana mengatakan dirinya selalu mengurus dan mengobati monyet yang dipekerjakannya bila monyet itu menunjukkan gejala sakit seperti bersin-bersin.

?“Kalau monyet kelihatan sakit flu dan mulai bersin, saya coba obati dengan memberinya obat flu yang biasa untuk digunakan manusia tapi dengan dosis setengah,” ujar Durjana ketika dihubungi, hari ini.?

Durjana, yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat ini mengatakan bahwa monyet yang dipekerjakannya untuk mengamen juga pernah menggigit orang.?

“Saya kawatir juga orang yang digigit itu akan sakit, tapi saya tanggung jawab dengan membawanya ke dokter untuk diobati,” klaim Durjana, sambil menambahkan bahwa dia juga selalu menanyakan dan memantau kondisi orang yang digigit monyetnya apabila dalam perjalanannya mengamen melewati daerah dimana korban gigitan monyetnya itu tinggal.
?
David van Gennep, direktur eksekutif AAP, suatu pusat penyelamatan dan perlindungan primata dan mamalia eksotik yang berbasis di Belanda, mengatakan bahwa mengobati monyet yang menunjukkan gejala sakit tidak semudah itu. Penyakit-penyakit yang mungkin diderita sang monyet, ujar van Gennep, tidak akan kelihatan di permukaan secara fisik pada hewan tersebut dan hanya bisa dideteksi melalui tes kesehatan, seperti yang dilakukan bulan lalu oleh kelompok penggiat kesejahteraan binatang, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) terhadap beberapa monyet jalanan yang disita dari pengemis.

?Hasil tes terhadap empat dari 21 monyet yang disita menunjukkan mereka menderita tuberculosis, Hepatitis B, Hepatitis C, leptospirosis dan herpes, sehingga mereka terpaksa di euthanasia untuk mencegah terjadinya zoonosis, atau penularan penyakit dari hewan kepada manusia dan sebaliknya.

?Sebagai ahli virus, van Gennep mengatakan bahwa dia dapat mengetahui monyet-monyet yang dipekerjakan itu sudah terjangkit suatu jenis penyakit yang belum diketahui oleh manusia.

?“Ada beberapa penyakit yang spesifik diderita oleh monyet dan tidak akan jadi masalah bila hanya terjadi pada mereka, namun akan jadi masalah ketika terjadi transmisi penyakit itu dari hewan ke manusia atau sebaliknya,” ujar van Gennep ketika ditemui saat berkunjung ke Jakarta belum lama ini.

?“Hal inilah yang menjadi kekhawatiran utama saya dengan topeng monyet, karena kontak monyet yang terlalu dekat dengan manusia. Hal itu tidak baik untuk keduanya, baik hewan dan manusia, karena bila timbul penyakit menular, hewan akan dimusnahkan,” ujar van Gennep.

?Namun Durjana yang tinggal di kawasan Angke, Kecamatan Tambora Jakarta Barat, menampik kekhawatiran seperti itu.

?“Sejauh ini belum pernah ada kasus yang digigit monyet saya sampai sakit parah,” ujar Durjana yang tempat tinggalnya tidak jauh dari lokasi kebakaran di Dermaga Dua, Muara Angke, Jakarta Utara yang terjadi pada Senin (20/8). Tempat itu pula yang menjadi lokasi tempat tinggal sekelompok pengemis topeng monyet.

?“Saya dapat kabar ada satu monyet yang jadi korban mati dalam kebakaran itu,” ujar Durjana.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Seputar Parepare | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. B@n9 - 13ro - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger