Home » » 65th Radio Nederland Siaran Indonesia 1947 - 2012

65th Radio Nederland Siaran Indonesia 1947 - 2012

Written By Arfan Asri on Rabu, 20 Juni 2012 | Rabu, Juni 20, 2012

 
Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.

Rencana penghentian siaran Bahasa Indonesia Radio Nederland (RNW) per 1 Juli 2012 mulai diketahui publik luas. Berita penutupan “Jendela Belanda” ini mengejutkan banyak pendengar.

Seperti dirasakan Eddy Setiawan, pendengar kawakan radio internasional, ketika ditemui di Jakarta. Ia mendengar kabar Ranesi akan tutup, lewat Bari Muchtar pada perbincangan dengan wakil pemred pemberitaan RRI (Radio Republik Indonesia) dalam acara Simpang Amsterdam.

“Mereka yang diwawancara itu juga tidak setuju penutupan. Sebab Radio Nederland sebagai jendela Belanda tidak bisa digantikan oleh radio lokal,” keluh Eddy Setiawan.

Istilah jendela ini sudah dipakai oleh para penyiar radio internasional dan juga para pendengarnya. “Radio Nederland adalah jendela telinga Anda.”

Kaget
Eddy terkejut mendengar kabar di siaran Simpang Amsterdam yang membahas perlunya radio asing di era reformasi Indonesia. “Karena sebelumnya tidak ada isu tentang penutupan itu. Saya kan kaget juga. Saya kontak teman-teman. Dan banyak yang tanya, tutupnya semua atau hanya Ranesi saja?”

Ketika itu penutupan siaran Indonesia merupakan salah satu kemungkinan dan dampak penghematan dana penyiaran RNW. “Lengkapnya bang Bari memang juga tidak bilang. Dia menanyakan bagaimana kalau ditutup? Saya memahaminya masih ada harapan, dalam bentuk proyek.”

Eddy Setiawan yang ditemui di kota kelahirannya Jakarta itu punya kenangan khusus dengan siaran internasional secara umum dan Radio Nederland secara khusus.

Eddy Mendengar Radio

http://www.ranesi.nl

Pria berkacamata tebal itu mengaku sebagai Asnawi, singkatan “Asal Cina Betawi”. Dia adalah keturunan kelima imigran Tionghoa. “Kakek saya masih pulang pergi ke Cina. Saya sudah keturunan ke lima, dan sudah tidak bisa bahasa Cina.”

Minat mendengar siaran internasional bermula sejak usia 20 tahunan pada 1969. Sambil membantu orang tua yang berprofesi sebagai pedagang arloji, mereka mendengar radio. “Di waktu luang sambil jaga toko, saya dengar radio. Terpengaruh papa dan kakak yang juga selalu menyalakan radio, pertamanya radio lokal.”

Kebetulan
Eddy pertamanya mendengar RRI Jakarta, Medan, Palembang dan Radio Ampera yang merangsang anak-anak muda mendengarkan radio. “Gara-gara radio non-RRI itu, saya menelusurin radio. Di gelombang pendek SW1 dan SW2.”

Dia menemukan Radio Nederland secara kebetulan. Sebelumnya dia sudah melacak VOA, BBC dan Radio Australia. “Ketika sedang memburu Radio Jerman yang saya baca di iklan, malah menemukan RNW di gelombang 16.”

Lampu minyak
Kualitas penerimaan Radio Nederland (RNW) tidak sejelas radio-radio lain. “Suaranya seperti sayup-sayup tidak sampai, karena langsung dari Hilversum.” Untuk mendengarkan siaran RNW yang kurang bagus, Eddy terpaksa mengorbankan lampu listrik.

“Karena sayup, saya pakai radio 4 band. Radio ini menyedot 200 Watt, akhirnya saya mematikan semua lampu di rumah untuk bisa mendengarkan RNW. Berkorban menggunakan lampu minyak, untuk bisa mendengarkan.”

Ia mengidolakan beberapa nama penyiar RNW. “Pengasuh yang paling saya ingat Sam Pasaribu dengan acara Kotak Pos, Kotak Surat, lalu Kak Sos (Sosrosoewarno, Red.) Paul Harmusial dan Gijs Jochem.”

Bahkan Sam Pasaribu pernah menginap di rumahnya di Jakarta. “Ketika Ratu Juliana berkunjung ke Jakarta tahun 1970, Sam Pasaribu menginap di rumah saya. Dia adalah penyiar pertama yang pernah ke rumah.”

Ikatan khusus
Di tahun 1970an itu Eddy Setiawan merasa bahwa radio internasional bisa menyambungkan banyak pendengar. “Berkat radio kami jadi punya banyak teman, akhirnya saling kenal.”

Komunikasi terjalin lewat surat dan kartu pos. “Zaman dahulu kalau kirim surat dibacakan alamatnya lengkap. Kami tidak masalah disebut secara lengkap.” Dan di era itu para penyiar masih “rajin” berkomunikasi dan membalas surat.

“Dalam satu tahun menerima banyak surat dari berbagai radio internasional.” Di tahun 1970 itu dia juga mendapat kunjungan dari Ebed Kadarusman dari Radio Australia.

Bagi pendengar seperti Eddy, kunjungan itu merupakan sebuah kehormatan. “Itu adalah kehormatan yang besar untuk bisa dikunjungi oleh penyiar radio internasional.” Tahun itu pulalah muncul gagasan membentuk organisasi pendengar radio internasional.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Seputar Parepare | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. B@n9 - 13ro - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger